Jalan Sunyi Penyintas Jiwa - Prolog

20.32

Matahari pagi sudah beranjak naik, menyinari bumi dengan cahaya yang sama, membawa harapan baru bagi sebagian orang, namun bagi sebagian lainnya, hari itu tak lebih dari sekedar pengulangan rutinitas yang tak berujung. Aku, seorang diri dalam kesunyian kamar, terjaga dari mimpi semalam, mendapati dunia sudah berlalu setengah hari. Orang-orang di luar sana telah menyelesaikan separuh dari beban hariannya, sementara aku baru saja membuka mata menyambut siang yang terasa pagi. "Waktu adalah uang," begitu kata mereka yang selalu berpacu dengan detik-detik yang tak pernah berhenti. Aku terbangun di saat jarum jam menunjuk angka satu siang, beranjak dari tempat tidur untuk menyegarkan diri dengan air, menyiapkan tubuh dan pikiran untuk melanjutkan sisa pekerjaan yang tertunda, sebagai seorang pekerja lepas yang tak terikat waktu.

Selepas dari ruang mandi, kuhidupkan ponsel yang telah terlelap selama beberapa jam, dan sebuah berita mengejutkan menyambutku dari salah satu grup whatsapp; sebuah keriuhan tentang Indra, seorang teman yang dikenal baik oleh kami semua, telah mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak seorang pun menduganya. "Bunuh diri," begitu kata mereka. Ia ditemukan menggantung diri di rumahnya, pada pagi hari sekitar jam delapan, oleh keluarganya. Betapa berubahnya cerita tentang Indra, dari malam sebelumnya yang masih terlihat bahagia, berbagi tawa dalam video call bersama teman-teman, ke sebuah akhir cerita yang begitu gelap dan menyisakan tanya.

Tragedi Indra membawa ingatan pada cerita-cerita Erich Fromm, seorang psikolog dari aliran psikososial, yang pernah menyaksikan tragedi serupa dalam lingkup kehidupannya. Dalam masa-masa kelam Perang Dunia Kedua, Fromm masih muda ketika ia menyaksikan seorang tetangga, perempuan muda yang cantik, cerdas, dan berasal dari keluarga yang baik, ditemukan meninggal dalam keadaan tergantung di dalam rumahnya. Kejadian lain, ia melihat teman-temannya yang tadinya hanyalah para pecinta buku dan hidup jauh dari kekerasan, berubah menjadi sosok-sosok yang brutal dalam mempertahankan nasionalisme saat perang pecah. Dua peristiwa besar itu mengantarkan Fromm pada sebuah perjalanan menekuni ilmu psikologi, khususnya psikoanalisis ala Sigmund Freud, dan pada akhirnya mengembangkan teori tentang dilema kemanusiaan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, politik, dan budaya.

Sebelum lebih jauh menelusuri labirin psikologi tersebut, izinkan aku membagi beberapa kisah dari kehidupanku yang berkaitan dengan masalah serupa. Cerita pertamaku berawal dari seorang pria bernama Ocim, tetanggaku di kampung, saat usiaku masih menginjak 18 tahun dan dia 27 tahun. Rumahnya hanya berjarak beberapa langkah dari rumahku, dipisahkan oleh solokan kecil. Ocim, yang bukan asli dari kampung kami, menikah dengan Yati, putri Pak Saaman, dan kemudian menempati rumah yang dibangun oleh keluarga Yati. Sesuai dengan adat kami, dimana suami akan tinggal di lingkungan keluarga istri. Pernikahan mereka yang sudah berlangsung dua tahun masih belum dikaruniai anak, dan Ocim, seorang tukang servis elektronik, jarang meninggalkan rumah karena pekerjaannya memperbaiki tumpukan televisi tua yang rusak.


Ekonomi kampung kami yang didominasi oleh pekerjaan di sawah membuat Ocim terasa terasing, karena dia tidak pernah terbiasa bekerja di sawah. Malu dan kebingungan tergambar dari wajahnya setiap kali topik pekerjaan sawah muncul dalam percakapan. Itulah yang aku saksikan dari Ocim selama dua tahun itu, sampai suatu pagi yang mengejutkan, saat ia keluar dari rumahnya dalam keadaan telanjang bulat, tanpa sepatah kata, dengan pandangan mata yang kosong. Kejadian itu menggemparkan kampung kami, yang biasanya hanya dipenuhi suara burung, kini berubah menjadi arena perbincangan tentang Ocim di setiap sudut, dari warung kampung hingga sawah. Beberapa orang yang dianggap "pintar" di kampung kami dan tetangga dipanggil untuk memberikan penyembuhan. Ada hari dimana suara pengajian terdengar, hari lain jampi-jampi, dan terkadang hanya terdengar jeritan Ocim yang kini dianggap "gila" oleh warga kampung. Hingga akhirnya, keluarganya memutuskan untuk membawa Ocim kembali ke kampung halamannya, setelah memutuskan perceraian dengan Yati. Ocim pergi, meninggalkan kampung kami dengan kenangan yang tersimpan di balik dinding-dinding kayu yang pernah memenjarakan jiwanya. 

You Might Also Like

0 komentar