Perjalanan ke barat #7 - Pemandian air panas Way belerang

11.54

Remuk rasanya badan ini. Setelah cukup lama tidak melakukan olahraga, saat ini saya merasa seluruh badan saya remuk dan tentu saja sakit-sakit bukan main. selama perjalanan ke barat ini kebanyakan saya jalan kaki dari suatu tempat ke tempat lainnya. Bahkan kelak ketika dibanten selatan hampir seluruhnya dilakukan dengan berjalan kaki. Sebenarnya saya berencana untuk kembali melanjutkan perjalanan setelah turun dari gunung rajabasa menuju pelabuhan bakauheni, namun sepertinya waktu semakin sore yang pastinya sulit menemukan tumpangan dari kalianda menuju Pelabuhan bakauheni menjelang malam seperti ini.

Ketika turun dari gunung rajabasa,  saya bertemu dengan seorang pendaki lokal yang bernama irfan. Dari dia saya banyak mendapatkan informasi perjalanan maupun adat istiadat setempat. Saya oleh irfan diajak istirahat sejenak di sebuah rumah warga, yang ternyata masih dari suku sunda, tasikmalaya. Rumahnya sangat sederhana, ngontrak. Mempunyai dua anak perempuan dan salah satunya sudah menjadi perempuan remaja yang cantik. Lama kami ngobrol dengan warga tersebut, dari mulai obrolan ringan sampai dengan obrolan yang agak berat mengenai dunia politik di lampung sampai dengan politik di seberang jawa sana, Jakarta.

Setelah cukup lama ngobrol dengan keluarga tersebut, saya pamit hendak melanjutkan perjalanan. Rencananya saya akan numpang istirahat di obyek wisata Way Blerang. yang terletak masih di kecamatan kalianda walau sebenarnya irfan mengajak menginap di rumahnya, namun saya tolak secara halus dengan berbagai alasan. Bung Irfan mengantarkan saya menuju Way Belerang, Setelah sampai di lokasi ternyata saya bertemu dengan salah satu pendi yang berpapasan saat di gunung rajabasa. Namanya Rudi, dia sudah agak tua, walau demikian jangan kalian sangsikan bahwa bung rudi ini sudah mendaki hampir semua gunung tinggi yang ada di Indonesia. Bung rudi ini sudah terlebih dahulu izin ke penjaga Wisata Way Belerang ini untuk istirahat, jadi sepertinya saya tidak mesti harus izin lagi.

Way Belerang ini merupakan obyek wisata pemandian air panas yang berada di bawah kaki gunung rajabasa. Gunung rajabasa merupakan gurung merapi dengan kerucut vulkanik terdapat diselat sunda. jadi wajar saja ada air panas yang mengalir disini. Pemandian air panas Way Belerang merupakan obyek wisata yang dimiliki dan di kelola oleh pemda, namun demikian pengelolaan tempat ini tidaklah dikelola dengan baik. Banyak infrastruktur serta fasilitas pemandian yang sudah ujur dan rusak. Tapi saya akui, air panas disini layak untuk anda berendam lama-lama disini.

Menjelang malam tiba, kami yang hendak numpang bermalam di Way Belerang akhirnya merebahkan diri di emperan warung yang ada disana. Walau banyak pemuda yang berjudi disana, namun mereka cukup peduli dengan kami dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti yang dibenak saya saat mendengar gosip tentang kriminalitas dilampung. 

Pagi-pagi sekali saya sudah dibangunkan oleh pemilik warung, karena warung yang saya tumpangi tidur akan segera buka. Pagi di way belereng cukup terasa dingin, walau tak sedingin di daerah puncak. Untunglah disana ada pemandian air panas, dan ternyata sangat menyenangkan pagi-pagi berendam air panas, selain tentunya gratis bagi kami ini. Sebenarnya untuk tiket pemandian air panas ini seharga 10.000 rupiah dan airnya cukup jernih karena petugas kebersihannya selalu menguras air panas setiap pagi. Dalam obrolan semalam, konon katanya ditempat pemandian air panas ini banyak hal mistik, tapi entahlah. Bagi saya hal yang demikian merupakan sesuatu yang tidak rasional. Setelah hampir dua hari di wilayah kalianda ini, setelah saya amati salah satu karakteristik warga lampung sekitar gunung rajabasa ini adalah Klenik. Mereka masih sangat percaya akan hal yang berbau mistik, bukan hanya masyarakat tua, namun masyarakat mudanya-pun sama parahnya dengan masyarakat tua. Mereka semua Klenik.

Pagi beranjak siang, dan perjalanan harus saya lanjutkan kembali. rencana hari ini kembali menuju pelabuhan merak banten. Umtuk kemudian menyusuri pedalaman banten selatan. Setelah sarapan nasi uduk, Saya berpamitan dengan petugas serta pedagang yang ada disana. Sambil berjalan kaki menuju jalan raya saya pula berpamitan dengan paman rudi.
Bersambung...


You Might Also Like

0 komentar